Saturday, 12 December 2009

Jembatan

Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka jatuh ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar sedemikian hebat. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan, saling meminjamkan peralatan pertanian, dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerjasama yang akrab itu kini retak.

Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa. Suatu pagi, seseorang mengetuk rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. "Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan," kata pria itu dengan ramah. "Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan." "Oh ya!" jawab sang kakak. "Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ...ah sebetulnya ia adalah adikku.

Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan buldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya." Kata tukang kayu, "Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang." Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu.

Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya. Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi.

Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar. "Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku." kata sang adik pada kakaknya. Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi. "Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami mempunyai banyak pekerjaan untukmu," pinta sang kakak.

"Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini," kata tukang kayu, "tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan"


Vincent Chua

"Upah Kesetiaan"("Wages Loyalty")

Seekor anjing bernama Dasher dengan setia menemani bocah cilik berusia 4 tahun bernama Millie Kwast yang tinggal di GlenRock, sebuah stasiun di kawasan penghasil anggur, Hunter Valley di utara Sidney. Suatu ketika Millie tersesat saat ia berjalan bersam anjingnya itu, ia lantas berlindung di balik semak dan memeluk anjingnya agar tetap hangat di malam hari. Millie ditemukan seorang teman keluarganya, tengah duduk dalam parit yang berjarak 2 km dai rumahnya. Sepanjang bertahan 24 jam, Millie mengaku melihat beberapa kangguru dan helikopter kuning, dan ia juga mendengar namanya dipanggil-panggil. Hal yang mengagumkan adalah, Millie selamat tanpa luka sedikitpun. Begitu setianya sang anjing menemani tuannya, bahkan sampai saat yang tidak mengenakkan.

Bagaimanakah kesetiaan kita terhadap Tuhan dan sesama? Kalau anjing saja bisa setia kepada tuannya, masakan kita tidak bisa setia? Kesetiaan merupakan sifat ilahi di dalam diri orang percaya dan merupakan buah dari pekerjaan Roh dalam diri orang percaya. Jika kita mencerminkan sifat-sifat kesetiaan dalam hidup kita, maka itu berarti kita hidup di dalam Roh Kudus.Jika kita setia, maka kesetiaan akan memimpin kita dalam mengiring dan melayani-Nya, kendatipun kesulitan dan kesukaran mewarnai hidup.

Tuhan mencari orang-orang yang berlaku setia. Tidak sekadar setia kepada sesama, tetapi terlebih kepada Tuhan. Berlakulah setia kepada sesama juga pada Dia sampai kapanpun.

Kesetiaan sejati adalah kesetiaan yang mampu bertahan sekalipun di dalam pelaksanaannya banyak mengalami rintangan dan tantangan.
Tuhan berjanji bahwa bagi orang-orang yang setia, Dia akan memberikan upah atas kesetiaan kita dan akan membrikan kita Mahkota Kehidupan.

Kesetiaan harus diwujudkan dalam tindakan dan ketulusan bukan sekadar teori belaka.

" Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya."
( Amsal 19 : 22 )


Haleluyah

-Solagratia-

Tuhan Berkati Indonesia & seluruh Dunia.


Prayson Thong


Thursday, 10 December 2009

"Aku Bisa"("I Can")

"Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya:" Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup? "

tidak ada Yang Mustahil, aku bisa Chester Floyd Carlson pada mulanya adalah seorang patena hak Pengacara. Bermula dari kesulitan-kesulitannya dalam Bekerja, dimana ia harus menyalin dan mengetik ulang semua hak yang didaftarkan patena kepadanya, ia mulai Berpikir untuk mencari alternatif yang lebih baik, yang mampu membuatnya Bekerja dengan lebih cepat, lebih efektif dan efisien. Mengetik ulang semuanya tentunya menyita waktu, memakai karbon kopi atau dikenal juga dengan "basah copy" pada saat itu pun rasanya masih Membuang banyak waktu. Carlson Berpikir seperti ini: "Saya pikir kemungkinan untuk membuat sebuah penemuan bisa membunuh dua burung dengan satu batu; ini akan menjadi kesempatan untuk melakukan dunia yang baik dan juga kesempatan untuk melakukan sendiri beberapa baik." Carlson Berpikir jauh lebih luas daripada kepentingannya sendiri. Di satu sisi ia Berpikir untuk meringankan dan mempercepat kerjanya, di sisi lain dia ingin membuat sesuatu yang berguna bagi dunia. Percobaan dan dengan serangkaian usaha, Kemudian ia pun berhasil membuat sebuah mesin fotokopi pada tahun 1937. Bertahun-tahun ia gagal dalam memasarkan produknya. Beberapa perusahaan besar seperti IBM saat itu atau US Army Signal Corps pun ternyata tidak berminat, karena menurut Carlson penemuan mereka itu tidak bakal laku di pasaran. Tapi Carlson tidak putus asa. Akhirnya pada tahun ke Delapan dari usahanya, sebuah perusahaan bernama Perusahaan haloid tertarik, dan itulah yang menjadi awal dari Terbentuknya Xerox, mesin fotokopi yang hingga hari ini masih menjadi jaminan mutu. Bagaimana Carlson Jika punya pribadi yang gampang menyerah? mungkin hari ini kita masih harus menyalin segala sesuatunya dengan mempergunakan masih manual atau cetak karbon yang basah dan gampang luntur. Karena tidak gampang patah semangatnya, kita pun bisa menikmati fasilitas yang begitu banyak kita meringankan dan menghemat waktu.

Beribu-ribu tahun sebelumnya kisah yang kurang lebih sama pernah terjadi. Pada saat itu ada seorang raksasa bernama Goliat, yang tingginya saja sudah menyeramkan, kira-kira tiga meter. Dia adalah jagoan dari kelompok tentara Falistin, yang dilengkapi pula dengan baju perang dan senjata dari tembaga berupa lembing. Mata tombaknya saja seberat 7 kilogram, ditambah sebuah perisai. Jika ia tidaklah mengherankan Memandang rendah bangsa israel yang kecil-kecil dengan peralatan perang yang tidak selengkap dirinya. "Ia berdiri dan berseru kepada barisan Israel, katanya kepada mereka:" Mengapa kamu keluar untuk Mengatur barisan perangmu? Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu seorang, dan Biarlah ia turun mendapatkan daku. "(1 Samuel 17:8). Mendengar itu, ketakutanlah Saul dan prajuritnya. (Ay 11).

Pada saat itu terdapatlah Daud, seorang bocah yang sehari-hari kerjanya hanya menggembalakan domba ayahnya. Berbeda dengan reaksi prajurit-prajurit dewasa, ternyata Daud tidak gentar, dan Merasa terbakar Mendengar ejekan demi ejekan yang dilontarkan Goliat. Sontak ia berkata "Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya:" Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup? "(Ay 26). Prajurit perang saja takut, berani-beraninya anak kecil ini bicara begitu? Tidak ada yang percaya, termasuk Saul." Tetapi Saul berkata kepada Daud: "Tidak mungkin engkau dapat Menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit." (ay 33). Tidak hanya dari pihak israel, tapi dari pihak Filistin Goliat pun dan mengejeknya. "Orang Filistin itu berkata kepada Daud:" Anjingkah aku, maka aku mendatangi engkau dengan Tongkat? "Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud." (ay 43). Apakah Daud omong besar dan menyombongkan diri? Sama sekali bukan. Kita lihat Daud menjawab Saul sebagai berikut "Pula kata Daud:" TUHAN yang telah Melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan Melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu. "(Ay 37). Dan kepada Goliat, Daud berkata" Engkau mendatangi aku dengan pedang dan Tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. "(ay 45). Daud yakin karena ia percaya Bahwa Tuhan ada besertanya. Jika Tuhan telah Berkali-kali Melepaskan untuk kuasaNya Menyatakan Daud dari hewan-hewan buas dan pembohong yang ingin memangsa ternaknya, maka untuk Menghadapi Goliat Tuhan pun pasti bisa. Ini iman Daud kecil. Kita tahu apa yang terjadi sesudahnya. gemilang Daud mengalahkan Goliat dengan hanya berbekal satu batu dan ketapel. (Ay 50).


Mengatasi rintangan, mengatasi kemustahilan, ini bukanlah omong kosong dan bisa terjadi kepada Siapapun, termasuk kita, apabila kita melibatkan Tuhan di dalamnya. "Aku tidak bisa?" Mungkin ya, tapi bersama Tuhan Seharusnya kalimat itu diganti dengan "Aku Bisa!". Sepanjang sejarah kekristenan Bahkan hingga hari ini kita menyaksikan sendiri bagaimana Tuhan sanggup mukjizat Bekerja melewati batas kemampuan Nalar atau logika manusia. "Sebab bagi Allah tidak ada yang Mustahil" (Lukas 1:37), dan dengan demikian "Tidak ada yang Mustahil bagi orang yang percaya!" (Markus 9:23). Ini berlaku bagi Siapapun yang percaya, termasuk anda dan saya. Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah dalam Menghadapi masalah, terus tenggelam dalam kegagalan dan sulit untuk maju, Terikat dalam berbagai trauma yang membuat kita tidak berani mencoba untuk bangkit. Kita boleh saja gagal, orang boleh saja mencemooh kita, namun itu bukanlah akhir dari segalanya. Kita tidak boleh menyerah dan kehilangan Pengharapan. Penulis Amsal berkata "Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana." (Amsal 24:16) Agar tidak gampang patah Ketika Menghadapi proses, lakukanlah itu semua dengan mata yang tertuju pada Yesus (Ibrani 12:2) dan "Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang -orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. " (ay 3). Apapun yang tantangan atau hambatan yang saat ini kita Hadapi, Hadapilah dengan semangat tinggi dan iman yang kuat. Bersama Tuhan, apa yang tidak bisa bagi pandangan dunia akan menjadi nyata. Saat ini mungkin semuanya terlihat tidak mungkin, saat ini mungkin kita sudah lelah disepelekan, tapi Percayalah Bahwa Tuhan mampu membuat perkara-perkara besar dalam hidup anda. Karena baginya, tidak ada Yang Mustahil.

Mengatasi kemungkinan menjadi mungkin bila Allah berdiam di dalam diri.


Haleluyah.

-Solagratia-

Tuhan Berkati Indonesia & selamatkan negara kami & seluruh negara di muka Bumi ini.



Prayson Thong





Impian Seorang Mahasiswi

Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang
kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri
dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya.

Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput,
memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah.
Ia menyapa, "Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. Maukah kamu memelukku?" Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya, "Tentu saja boleh!". Dia pun memberi saya pelukan yang sangat erat.
"Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang masih begitu muda dan tak berdosa seperti ini?" tanya saya berolok-olok. Dengan bercanda dia menjawab, "Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian."

"Ah yang serius?" pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah
memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya.
"Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya
sedang mengambilnya!" katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab.

Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan
bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagi
pengalaman dan kebijaksanaannya. Setelah setahun berlalu, Rose menjadi
bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka
berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia
pandai sekali menghidupkannya suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan
malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang
diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia
mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu
pidatonya terjatuh ke lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan berkata, "Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini membunuh saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu."

"Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua. Kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada empat rahasia untuk tetap awet muda, tetap menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila kamu
kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada banyak sekali orang yang berjalan
di sekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya."
"Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu
berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan. Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan."
"Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya tidak
menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak
kami perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan
penyesalan."

Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi "The Rose".
Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya
dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa
tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai.
Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai
penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan
teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan.
Ingatlah, menjadi tua adalah kemestian, tetapi menjadi dewasa adalah
pilihan.

* * *
Sediakan waktu untuk berpikir, itulah sumber kekuatan.
Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju kebahagiaan.
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat
untuk mementingkan diri sendiri.
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.
(Doa Inggris Kuno)


Vincent Chua



Lukisan Tangan Berdoa

Taukah anda kisah tentang lukisan yang sangat banyak dipasang orang terutama orang kristen, didinding-dinding rumah mereka?; lukisan sebuah tangan yang sedang berdoa.

Kisahnya ada dua orang sahabat miskin yang mempunyai keinginan untuk sekolah; tapi kedua orang tersebut adalah orang yang tidak mampu; lalu pergilah mereka kekota, karena biaya sekolah mahal maka berundinglah kedua orang tersebut.
orang I: biarlah kau yang sekolah aku yang bekerja, nanti setelah kau lulus baru aku yang sekolah.
orang II: tidak kau saja yang sekolah aku yang bekerja. begitulah kedua sahabat itu berunding;

sampai pada akhirnya salah satu dari mereka ada yang sekolah dan yang satu lagi bekerja. Albert namanya yang sedang sekolah, belajar dengan giatnya, sampai akhirnya dia lulus dengan predikat yang sangat memuaskan. Dan temannya itu bekerja sebagai buruh, kasar apapun dilakukannya agar dia memdapatkan uang dan mengirimkanya untuk Albert sebagai biaya kuliahnya. Pulanglah Albert dan menemui temanya dirumah, sebelum dia ketok pintu, dia mendengar kawannya (sedang sekarat) sedang berdoa begini "ya Tuhan biarlah sahabatku Albert belajar dan lindungi dia beri dia kekuatan agar cita-cita kami tercapi, jari-jariku terasa mati, tulang-tulangku sudah tak mampu digerakkan, aku sudah tak bisa lagi untuk sekolah" akhirnya kawannya itu meninggal.

Untuk mengenang sahabatnya itu maka Albert membuat lukisan "TANGAN YANG SEDANG BERDOA" dan sampai sekarang banyak sekali dipasang orang dirumah-rumah.

Demikianlah cerita lukisan itu, semoga kita bisa menyimak arti sebuah persahabatan dan makna lain yang terkandung dalam lukisan itu.

"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." Yoh 13:34-35

"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." Yoh 15:13


Vincent Chua



Thursday, 29 May 2008

Ahli Manajemen Waktu

Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara didepan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan para siswanya.Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata, "Baiklah, sekarang waktunya kuis."Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran satu galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya diatas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu kedalam toples.Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?" Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah."Kemudian dia berkata, " Benarkah? Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah2 batu-batu itu.Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi, "Apakah toples ini sudah penuh?"Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum", salah satu dari siswanya menjawab."Bagus!" jawabnyaKembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?""Belum!" serentak para siswanya menjawabSekali lagi dia berkata, "Bagus!"Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan bertanya, "Apakah maksud dari ilustrasi ini?" Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya""Bukan", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa : Kalau kamu tidak meletakkan batu besar itu sebagai yg pertama, kamu tidak akan pernah bisa memasukkannya ke dalam toples sama sekali. Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, pendidikanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Hobbymu. Waktu untuk dirimu sendiri. Kesehatanmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar ini sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk melakukannya. "Jika kamu mendahulukan hal-hal kecil (kerikil dan pasir)dalam waktumu maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal kecil, kamu tidak akan punya waktu berharga yg kamu butuhkan untuk melakukan hal-hal besar dan penting (batu-batu besar) dalam hidupmu.



Monday, 24 September 2007

Senar Biola

Niccolo Paganini, seorang pemain biola yang terkenal di abad 19, memainkan konser untuk para pemujanya yang memenuhi ruangan. Dia bermain biola dengan diiringi orkestra penuh.Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya tapi dia meneruskan memainkan lagunya. Kejadian yang sangat mengejutkan senar biolanya yang lain pun putus satu persatu hanya meninggalkan satu senar, tetapi dia tetap main. Ketika para penonton melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap bermain, mereka berdiri dan berteriak,"Hebat, hebat."Setelah tepuk tangan riuh memujanya, Paganini menyuruh mereka untuk duduk. Mereka menyadari tidak mungkin dia dapat bermain dengan satu senar. Paganini memberi hormat pada para penonton dan memberi isyarat pada dirigen orkestra untuk meneruskan bagian akhir dari lagunya itu.Dengan mata berbinar dia berteriak, "Peganini dengan satu senar" Dia menaruh biolanya di dagunya dan memulai memainkan bagian akhir dari lagunya tersebut dengan indahnya. Penonton sangat terkejut dan kagum pada kejadian ini.

Renungan :

Hidup kita dipenuhi oleh persoalan, kekuatiran, kekecewaan dan semua hal yang tidak baik. Secara jujur, kita seringkali mencurahkan terlalu banyak waktu mengkonsentrasikan pada senar kita yang putus dan segala sesuatu yang kita tidak dapat ubah.Apakah anda masih memikirkan senar-senar Anda yang putus dalam hidup Anda? Apakah senar terakhir nadanya tidak indah lagi? Jika demikian, janganlah melihat ke belakang, majulah terus, mainkan senar satu-satunya itu. Mainkanlah itu dengan indahnya.

Sumber : Anonymous